Rabu, 10 Oktober 2012

Transmisi Budaya dan Biologis Serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan Transmisi Budaya

Transmisi Budaya dan Biologis Serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan Transmisi Budaya Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Sedangkan, biologis adalah proses yang ada pada organisme hidup. Proses ini membedakan hal-hal yang hidup dan yang tak hidup. Sekalipun, unsur-unsur dari budaya begitu banyak, hal ini sama sekali tidak menghambat proses pelestarian kepada generasi selanjutnya, yang hal ini juga merupakan adanya keterkatian antara transmisi budaya dan biologis. Kedua hal ini saling berhubungan dan saling terkait. Transmisi budaya merupakan sebuah proses penyampaian suatu pesan yang ada sejak dahulu kala mengenai sesuatu hal yang merupakan sebuah kebiasaan dari generasi terdahulu yang masih diterapkan ke generasi sekarang. Oleh sebab itu keterkaitan antara biologis dengan transmisi budaya sangatlah besar, dimana apabila sebuah budaya masih dapat terjaga sampai pada saat ini juga dikarenakan factor biologis yang dimiliki setiap individu. Di Indonesia sendiri terdapat macam-macam bentuk transmisi budaya, yaitu : sosialisasi, akulturasi, enkulturasi, dan biologis. 1. Enkulturasi Proses penerusan dan kebudayaan transmsi dari generasi ke generasi selama hidup seseorang individu dimulai dari keluaraga terutama ibu. enkulturasi mengacu pada proses dimana kultur di perabaiki melalui kontak atau pemaparan langasung dengan kultur lain. kultur di transmisikan melalui proses belajar bukan dengan gen atau pun keturunan. Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu bergerak dinamis mengikuti perkembangan jaman. Sebaliknya sebuah masyarakat yang cenderung sulit menerima hal hal baru dalam masyarakat sulit mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi untuk disebut sebagai akulturasi. 2. Akulturasi Akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnnya kebudayaan itu sendiri. pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru. hal ini disebabkan karena norma-norama yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai. suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi selalu adakelomok individu-individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi . proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. 3. Sosialisasi Sosialisasi proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Menurut Charles H Cooley menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Konsep Diri seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut. 1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain. Seseorang merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba. 2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita. Seseorang membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia. 3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut. Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri. Awal Perkembangan dan Pengasuhan Transmisi budaya dapat terjadi sesuai dengan awal pengembangan dan pengasuhan yang terjadi pada masing-masing individu. Dimana proses seperti enkulturasi, sosialisasi ataupun akulturasi yang mempengaruhi perkembangan psikologis individu tergantung bagaimana individu mendapat pengasuhan dan bagaimana lingkungan yang diterimanya. Bentuk – bentuk Transmisi Budaya Enkulturasi adalah Proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya selama hidup seseorang individu dimulai dari insttitusi keluarga terutama tokoh ibu. Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. Sosialisasi Sosisalisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota. Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri. Pengaruh Enkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu Enkulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui proses belajar dan penyesuaian alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Pengaruh Sosialisasi terhadap perkembangan psikologi individu Sosiologi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Pengaruh Akulturasi terhadap perkembangan psikologi individu Akulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Jenis-Jenis Transmisi Budaya 1. TRANSMISI VERTICAL GENERAL ACCULTURATION : Dari orang yang lebih tua/orang tua, pada budaya sendiri (intra) informal. Ex: anak disiplin karena melihat orang tuanya SPECIFIC SOCIALIZATION : Peristiwa yang disengaja, terarah dan sistematis. Ex: anak di didik untuk tidak membantah pada orang tua pendidikan formal 2. OBLIQUE TRANSMISION Dari orang dewasa lain, yang budayanya sama (enkulturasi/ sosialisasi) dari orang yang budayanya beda (akulturasi/ resosialisasi) GENERAL ACULTURATION : Orang dewasa yang budanya sama anak meniru sopan-santun orang dewasa, mis. dari guru SPECIFIC SOCIALIZATION: Misalnya: Guru menanamkan sifat-sifat kerja sama GENERAL ACCULTURATION : Orang dewasa yang berbudaya beda. Ex: model pakaian SPECIFIC RESOCIALIZATION 3. HORIZONTAL TRANSMISION GENERAL ENCULTURATION : Dari teman sebaya pada budaya yang sama. Ex: anak ikut-ikutan merokok karena ikut temannya. SPECIFIC SOCIALIZATION : Misalnya: diskusi kelompok, anak mengikuti aturan bicara bergantian belajar main musik dari teman.

Sabtu, 06 Oktober 2012

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA Nama : Rurin Rimadhany Kelas : 3PA04 NPM : 16510282 UNIVERSITAS GUNADARMA 2012-2013 1. Pengertian Psikologi Lintas Budaya Budaya dalam kehidupan manusia adalah hal yang dekat dan melekat padanya. Budaya merupakan hasil karya manusia, lahir untuk manusia dalam mengatur dan mendukung kehidupannya. Tujuan menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik adalah keadaan akhir yang diinginkan tersebut. Karena manusia memang hidup untuk menjadikan dirinya berguna dan bermanfaat untuk manusia lain meskipun dengan perbedaan budaya dan kultur adat sekitar. Umumnya, psikologi lintas budaya dikenal dan dimengerti secara umum sebagai kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut. Dewasa ini, budaya yang terdapat disekitar kita sangatlah beragam. Tetapi, pada umunya psikologi lintas budaya membahas mengenai kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Tidak sedikit memang definisi yang menggambarkan mengenai pengertian dari psikologi lintas budaya tersebut, tetapi memang beberapa Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi. Definisi ini relatif sederhana dan memunculkan banyak persoalan. Sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan menekankan beberapa kompleksitas: 1. Riset lintas-budaya dalam psikologi adalah perbandingan sistematik dan eksplisit antara variabel psikologis di bawah kondisi-kondisi perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses-proses yang memerantarai kemunculan perbedaan perilaku. 2. Tujuan Psikologi Lintas budaya Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan serta perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam berbagai budaya dan kelompok etnik. Tidak hanya satu budaya dengan budaya yang lainnya, tetapi juga dengan seluruh budaya yang ada di dunia ini. 3. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan disiplin Ilmu lain *Hubungan psikologi lintas budaya dengan psikologi agama Agama bersifat dogmatis yaitu mengandung nilai-nilai yang terkait dengan keyakinan kebenaran dalam agama tidak selalu dapat diterima dengan nalar (logika). Namun, agama juga menawarkan penjelasan pada manusia tentang fenomena tertentu. Penjelasan tersebut diperoleh melalui perasaan, intuisi, dan wahyu dari Tuhan. Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan dengan istilah ”Al-nafs”, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah ”Al-ruh”. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu Al-nafs atau ilmu Al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda. *Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi Menurut Soejono Sukamto, Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat. Jadi hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu sosiologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai buadaya dan kelompok etnik yang berada dalam suatu kehidupan masyarakat. *Perbedaan Psikologi Lintas Budaya dengan Antropologi Menurut Koentjaraningrat, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Antropologi adalah Psikologi lintas budaya melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik sedangkan Antropologi melihat bagaimana manusia dalam suatu masyarkat melahirkan suatu kebudayaan. *Hubungan psikologi lintas budaya dengan psikologi indigenious Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat. Definisi ini, menurut Prof. Kusdwiratri Setiono, ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu: - Pertama, pengetahuan psikologi tidak dipaksakan dari luar, melainkan dimunculkan dari tradisi budaya setempat; - kedua psikologi yang sesungguhnya bukan berupa tingkah laku artifisial (buatan) yang diciptakan (hasil studi eksperimental), melainkan berupa tingkah laku keseharian; - ketiga, tingkah laku dipahami dan diinterpretasi tidak dalam kerangka teori yang diimport, melainkan dalam kerangka pemahaman budaya setempat; - keempat, psikologi indegenus mencakup pengetahuan psikologi yang relevan dan didesain untuk orang-orang setempat. Dengan kata lain, psikologi indigenus mencerminkan realitas sosial dari masyarakat setempat. Psikologi indigenus menurut Prof. Kusdwiratri Setiono, juga merupakan psikologi yang appropriate (cocok; tepat; pantas) untuk setiap budaya yang ada di negara manapun. Prof. Sarlito Sarwono, guru besar Psikologi UI, juga menjelaskan bahwa keberadaan Psikologi di Indonesia saat ini memang sedang menghadapi beberapa permasalahan, antara lain apa yang sudah berhasil diterapkan di Barat tidak selalu dapat diterapkan di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan etnik dan kondisi masyarakat Negara kita, misalnya masyarakat desa dan kota. Sehingga, apa yang sudah berhasil diterapkan di satu etnik belum tentu sesuai untuk etnik lain. Pada kenyataanya memang demikian. Selama ini, ilmu psikologi yang telah kita pelajari, masih difahami sebagai western psychology dengan mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia sebagai sesuatu yang universal. Padahal menurut Uichol Kim, seorang psikolog asal Korea, teori psikologi barat hanya memadai untuk memahami fenomena kejiwaan masyarakat barat saja sesuai dengan kultur sekuler dimana ilmu itu lahir. Adanya indigenous psychology sebagai understanding people in context merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi karena mampu memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya setempat. Hal ini juga sebagai bukti bahwa setiap perilaku manusia itu akan selalu dan pasti dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat setempat.

Selasa, 20 Maret 2012

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK KESEHATAN MENTAL (MENTAL HYGIENE)

Mental hygiene merujuk pada pengembangan dan aplikasi seperangkat prinsip-prinsip praktis yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan unsur psikologis dan Pencegahan dari kemungkinan timbulanya kerusakan mental atau malajudjusment. Kesehatan mental terkait dengan : (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan menjalani kehidupan sehari-hari; (2) bagaimana kita memandang diri sendiri dan sendiri dan orang lain; dan (3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan. Seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental sangat penting bagi setiap fase kehidupan. kesehatan mental meliputi upaya-upaya mengatasi stres, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan. Kesehatan mental tertentang dari yang baik sampai dengan yang buruk, dan setiap orang akan mengalaminya. tidak sedikit orang, pada waktu-waktu tertentu mengalami masalah-masalah kesehatan mental selama rentang kehidupannya. Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerjasama satu sama lain sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik). 1. Hadfield : ”upaya memeliharaan mental yang sehat dan mencegah agar mentak tidak sakit”. 2. Alexander Schneiders : ”suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis”. 3. Carl Witherington : ”ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sistem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat”. KARAKTERISTIK MENTAL YANG SEHAT Setiap menusia memiliki gaya dan ciri masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak semua orang memiliki seluruh kriteria untuk dapat disebut sebagai orang yang memiliki mental yang sehat karena setiap orang mungkin memiliki sifat tertentu yang dicirikan sebagai mental tidak sehat. Ciri Mental Sehat Pada Seseorang : 1. Terhindar dari Gangguan Jiwa : Zakiyah Daradjat (1975) mengemukakan perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa (psikose), yaitu: a. Neurose masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psikose tidak. b. Neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. sedangkan yang kena psikose kepribadiaannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas, dan ia hidup jauh dari alam kenyataan. 2. Dapat menyesuaikan diri : Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/ memenuhi kebutuhan (needs satisfaction), dan mengatasi stres, konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu. Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama. 3. Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin : Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam kegiatan-kegiatan belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga. 4. Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain : Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa tidak mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di atas kerugian orang lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai kebahagiaan bersama 5. Bertanggungjawab : Berani menghadapi segala hal yang dilakukannya. 6. Dewasa : Memiliki sikap dan perilaku yang tidak manja dan kekanak-kanakan. 7.Menghormati dan Menghargai Orang Lain : Berperilaku sopan santun sesuai aturan, nilai, norma dan adat istiadat yang ada di suatu tempat. 8. Optimis : Berfikir positif dalam menghadapi kehidupan. 9. Beriman dan Bertakwa : Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. 10. Disiplin : Taat dan patuh terhadap aturan yang ada serta menghargai waktu yang ada. Uraian diatas, menunjukan ciri-ciri mental yang sehat, sedangkan yang tidak sehat cirinya sebagai berikut : 1. Perasaan tidak nyaman (inadequacy) 2. Perasaan tidak aman (insecurity) 3. Kurang memiliki rasa percaya diri (self-confidence) 4. Kurang memahami diri (self-understanding) 5. Kurang mendapat kepuasan dalam berhubungan sosial 6. Ketidakmatangan emosi 7. Kepribadiannya terganggu 8. Mengalami patologi dalam struktur sistem syaraf (thorpe, dalam schneiders, 1964;61). RURIN RIMADHANY 16510282 PAIKOLOGI KESEHATAN MENTAL

Fenomena Kesehatan Mental di Masyarakat

Sebelum saya menjelaskan mengenai artikel yang saya buat tentang fenomena yang banyak terjadi di masyarakat, sebelumnya saya akan menerangkan dahulu mengenai Teori Psikoanalisa dari Sigmun Freud. Teori Psikoanalisa Sigmun Freud Dalam teori ini, Freud memandang pembentuk kepribadian dan sikap seseorang dipengaruhi oleh model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan model kepribadian tersebut adalah : Id, Ego, dan Super Ego. Id adalah faktor keinginan yang timbul dari naluti dan insting untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia seperti lapar, haus,seks dan yang lainnya. Id akan menimbulkan energi yang menyebabkan tingginya tegangan untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia. Ketika energi Id memuncak, muncullah Ego. Ego adalah Aspek psikologis manusia yaitu kognitif dan intelektual, tujuan Ego adalah mencari objek yang tepat dan realistis untuk mereduksi tegangan dari Id. Super Ego adalah aspek sosiologis dari kepribadian berupa hubungan keinginan dari Id dengan norm atau peraturan yang ada di masyarakat. Kesehatan mental jika ditinjau ari psikoanalisis adalah ketika Id menimbulkan keinginan besar seperti keinginan seksual, kasih sayang, kebutahn untuk hidup dan lain-lain. Lalu Ego mencari penyaluran realistis untuk mereduksi tegangan dari Id. Seperti mencari lawan jenis untuk berhubungan seksual, berusaha mencari kebutuhan lainnya seperti makanan untuk memenuhi kebutuhan akan rasa lapar. Disaat Ego sudah menemukan penyalurannya lalu akan muncul super ego yaitu penilaian dari hati juga lingkungan sekitar mengenai apakah tindakan yang akan kita lakukan sesuai dengan norma atau aturan yang ada di masyarakat dan apakah sesuia dan bisa diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika seseorang terlalu menuruti salah satu aspek seperti Id, Ego atau Super Ego, dan tidak mempertimbangkan aspek lainnya, maka orang tersebut dapat melakukan hal yang dianggap abnormal dan dapat di nilai orang tersebut tidak memiliki mental yang sehat. Fenomena yang akan saya jelaskan adalah tentang seseorang yang memiliki hasrat seksual yang besar tetapi tidak dapat melakukan penyaluran yang realistis. Saat kebutuhan Id pria tersebut begitu besar, dalam hal ini masalah seksual, pria ini tidak bisa manahan hasratnya yang semakin besar untuk memuaskan dirinya akan kebutuhan itu dikarenakan tidak adanya mekanisme pertahanan ego yaitu ego menempuh cara ekstrim untuk menghilangkan tekanan kecemasan berlebihan dari Id dengan cara rasionalisai., menggantikan keinginan dengan yang tidak berbahaya, atau menyublimasi keinginan tersebut. Disaat pertahanan Ego tidak bekerja dengan baik, maka Id akan semakin membesar lalu hasrat akan kebutuhan seksual itu pun akan disalurkn tanpa banyak berfikir lagi atau melupakan aspek lain seperti Super Ego. Dari sinilah akan timbul perilaku menyimpang seperti pemerkosaan, masturbasi atau perilaku seks bebas yang memang dewasa ini bukanlah hal tabu lagi di lingkungan masyarakat sekitar kita. RURIN RIMADHANY 16510282 Psikologi Kesehatan mental

Senin, 09 Januari 2012

“Internet Sebagai Media Mengekspresikan Diri”

TUGAS PSIKOLOGI dan TEKNOLOGI INTERNET Dengan judul “Internet Sebagai Media Mengekspresikan Diri” Disusun oleh : 1. Eduardus Saptono P (12510247)dan 2. Rurin Rimadhany(16510282) Kelas : 2PA04 UNIVERSITAS GUNADARMA 2010/2011 A. Identitas Responden 1 1. Nama/Inisial : RRD 2. Umur : 17 3. Pendidikan : SMA Responden 2 1. Nama/Inisial : Jonathan 2. Umur : 19th 3. Pendidikan : Mahasiswa B. Tanggal dan prosedur pengumpulan data, waktu observasi dan wawancara Tanggal : 01 Januari 2011 Tempat : Tempat tinggal responden 1 dan responden 2 Waktu : 20.00 WIB s.d selesai Prosedur Pengumpulan Data : Observasi dan Wawancara Langsung C. Latar belakang masalah Jaman sekarang internet memang bukan barang yang asing lagi, khususnya di kota-kota besar termasuk di lingkungan sekitar kita. Walaupun masih berada di kalangan tertentu, tapi dibandingkan beberapa tahun yang lalu internet saat ini bisa dikatakan berkembang jauh lebih pesat. Dipermudahkannya akses internet pada dewasa ini, membuat banyaknya masyarakat yang menggunakan internet sebagai salah satu hal primer yang menjadi kebiasaan dan kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Internet memberikan banyak kegunaan bagi para penggunanya, seperti ajang mencari teman, bisnis sampai diary online. Itu semua semakin membuat kehidupan di dunia maya sudah semakin mendekati kehidupan dunia nyata. Bedanya, hanya kita tidak bertemu langsung dan bertatap muka dengan orang lain. Dunia maya memberikan kelebihan tersendiri bagi para penggunanya seperti memberikan kebebasan berbicara tanpa bertatap muka langsung sehingga bagi para pengguna yang memiliki sedikit masalah dalam rasa percaya diri. Jejaring sosial tidak hanya memberikan kelebihannya, tetapi juga berbagai kekurangan yang mengikuti. Seperti makin banyaknya orang-orang yang menjadikan akun jejaring sosial mereka sebagai tempat mencurahkan isi hati atau berbagai permasalahn pribadi yang ada di kehidupan mereka sehari-hari. Memang tidak salah jika mereka menjadikan itu semua sebagai tempat mereka untuk melakukan itu, tapi tentu saja banyaknya pro dan kontra yang mengalir terkadang membuat layak atau tidaknya tindakan mereka itu. Terlepas dari itu semua, kami tertarik melakukan penelitian langsung kepada beberapa orang narasumber yang memang secara intensif mereka hidup di dunia maya. Dan disini kami juga dapat mengetahui hal apa saja yang mereka lakukan ataupun yang menyangkut semua kegiatan mereka didunia maya termasuk diary online. D. Permasalahan Subjek termasuk kedalam bagian orang-orang yang menjadikan keeksistesiannya didunia maya hampir sama seperti pada dunia nyata. Subjek juga lebih merasa nyaman dan merasa lebih menjadi dirinya sendiri saat beraktifitas didunia maya. Sampai pada mereka menceritakan tentang masalah pribadinya pun didunia maya bukan suatu masalah yang harus dikhawatirkan. Bagi mereka dunia maya lebih memberikan tempat bagi mereka yang mungkin memiliki masalah tentang rasa percaya diri terhadap orang-orang disekitar mereka untuk berbicara banyak termasuk masalah pribadi mereka. E. Observasi 1. Tingkah laku Kedua reponden bersikap baik dan ramah juga menerima kehadiran kami secara baik. Mereka antusias dalam menjawab berbagai pertanyaan yang kami berikan. Para responden juga tertarik dengan masalah yang kami akan bahas dengan mereka. Dan para responden menjawab dengan baik semua pertanyaan yang kami berikan. 2. Penampilan Penampilan kedua subyek terlihat seperti kebanyakan remaja wanita dan pria seperti pada umumnya. Tapi karena kami memakai tempat rumah mereka untuk melakukan observasi dan wawancara, kedua responden memakai baju yang santai namun tetap sopan. 3. Lingkungan sekitar Nyaman, bersih dan orang-orang disekitar kedua responden memnerima kehadiran kami dengan baik. F. Hasil Pengumpulan Data Responden 1 Apakah anda memiliki aku jejaring sosial? Iya pastinya saya memiliki akun jejaring sosial Sejak kapan anda menggunakan jejaring sosial itu? Kalau tidak salah sejak saya masih SMP Menurut anda, apakah akun jejaring sosial yang anda gunakan memiliki banyak kegunaan? Jika ada tolong sebutkan contohnya! Iya , contohnya : membuat saya mempunyai banyak teman , kenalan baru , dll Seberapa seringkah anda mempergunakan akun tersebut? Sering sekali, terkadang dalam waktu sehari, saya bisa menggunakannya berkali kali Apa saja yang anda lakukan ? Wall too wall, chat too chat, upload photo, terkadang juga seperti curahan hati saya dan teman-teman dll Apakah pernah anda menggunakan akun anda untuk membicarakan masalah pribadi anda? Iya pernah Kalau iya, mengapa anda menuliskan hal-hal yang pribadi di jejaring sosial yang bisa menjadi konsumsi publik itu? Biar seru saja, kan tidak semua yang difacebook itu fakta ! Apakah menurut anda itu tidak menggangu privasi anda? Atau anda merasa punya keuntungan dari itu semua? Misalnya mendapat perhatian dari orang disekitar anda? Tidak juga , tapi lebih seru kalo membuat sensasi ! Menurut anda, bagaimana respon dari orang-orang disekitar anda tentang anda didunia maya? Apa mereka terganggu atau malah menyukai semua yang anda lakukan? Ada yang terganggu ada yang tidak , tergantung masing-masing pendapat orangnya saja. Apakan didunia maya anda merasa lebih bisa mengekspresikan diri anda dari pada didunia nyata? Tentu saja. Tapi saya memang tipe orang yang senang mengekspresikan apa yang saya sedang saya alami dan saya rasakan. Didunia nyata ataupun dunia maya memberikan saya kebebasan untuk mengekspresikan diri saya. Responden 2 Apakah anda memiliki jejaring sosial? Ya, friendster, facebook, twitter, heello, google+ Sejak kapan anda menggunakan jejaring sosial itu? Friendster: Smp, Facebook dan twitter: SMA, dan heello, G+: Kuliah Menurut anda, apakah jejaring sosial yang anda gunakan memiliki banyak kegunaan? Jika ada tolong sebutkan contohnya! Ya, media hiburan, sosialisasi terutama dengan teman2 Seberapa seringkah anda mempergunakan akun trsebut? Setiap hari, tapi tidak 24 jam Apa saja yang anda lakukan ? Update status, chat, dan hanya melihat2 Apakah pernah anda menggunakan akun anda untuk membicarakan masalah pribadi anda? Kadang-kadang, tidak sering dan tidak tersirat Kalau iya, mengapa anda menuliskan hal-hal yang pribadi di jejaring sosial yang bisa menjadi konsumsi publik itu? Terkadang teman di jejaring sosial bisa ikut membantu dan menenangkan juga. Apakah menurut anda itu tidak menggangu privasi anda? Atau anda merasa punya keuntungan dari itu semua? Misalnya mendapat perhatian dari orang disekitar anda? Tidak, selama bukan merupakan hal yang bersifat “hanya saya yg boleh tahu” Menurut anda, bagaimana respon dari orang-orang disekitar anda tentang anda didunia maya? Apa mereka terganggu atau malah menyukai semua yang anda lakukan? Ada yang mendiamkan, ada yang mencoba membantu dengan bertanya 'kenapa jo, ada apa' dsb. Apakan didunia maya anda merasa lebih bisa mengekspresikan diri anda dari pada didunia nyata? Tidak juga sih, tapi memang terkadang lebih mengasyikan berekspresi didunia maya. G. Hasil dan Kesimpulan Kedua subjek termasuk kedalam bagian orang-orang yang aktif dalam menggunakan jejaring sosial yang memang memiliki banyak manfaat dan kegunaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Internet memberikan mereka akses untuk lebih bisa menunjukan bagaimana diri mereka yang sebenarnya dan juga untuk bertemu dengan banyak orang yang biasa disebut kehidupan didunia maya atau kehidupan yang tidak sesungguhnya. Jejaring sosial memberikan kedua subjek kebebasan untuk berbicara dan bertingkah laku, seperti menjadikan akun mereka pada jejaring sosial sebagai media mereka untuk menceritakan semua yang terjadi pada kehidupan mereka sehari-hari atau yang biasa disebut sebagai diary online. Jejaring sosial memberikan para penggunanya kenyamanan tersediri untuk bertutur kata, sehingga para penggunanya tak ragu untuk menceritakan berbagai hal termasuk ha-hal yang pribadi sekalipun. Dan memang, Internet memberikan para penggunanya wadah untuk mengekspresikan diri mereka yang mungkin hal itu tidak bisa mereka lakukan didunia nyata. Kembali lagi bagaimana individu itu menentukan mana yang baik atau tidak bagi diri mereka sendiri.

Senin, 19 Desember 2011

TRAUMA CAPITIS

I. KONSEP PENYAKIT 1.1. Definisi Trauma capitis adalah bentuk trauma yang dapat mengubah kemampuan otak dalam menghasilkan keseimbangan aktivitas fisik, intelektual, emosi, sosial atau sebagai gangguan traumatik yang dapat menimbulkan perubahan pada fungsi otak. (Black, 1997) Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi, 2003) Cedera kepala adalah cedera yang menimbulkan kerusakan atau perlukaan pada kulit kepala, tulang tengkorak, dan jaringan otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan. (Lukman, 1993) 1.2. Etiologi Penyebab yang sering adalah kecelakaan lalu lintas dan terjatuh. Seiring dengan kemajuan teknologi, frekuensi cedera kepala cenderung meningkat. Cedera kepala melibatkan kelompok usia produktif yaitu antara 15-44 tahun dengan usia rata-rata 30 tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki. Ø Cedera kepala dapat dibagi menurut berat ringannya : a. Cedera kepala ringan/minor (Hudak & Gallo, 1996) - GCS : 13-15 - Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia < 30 menit - Tidak ada fraktur tengkorak - Tidak ada kontusio serebral - Tidak ada hematoma b. Cedera kepala sedang - GCS : 9-12 - Kehilangan kesadaran atau amnesia > 30 menit tapi < 24 jam - Dapat mengalami fraktur tengkorak c. Cedera kepala berat - GCS : 3-8 - Kehilangan kesadaran atau amnesia > 24 jam - Juga meliputi kontusio serebral - Laserasi - Hematoma intracranial Ø Gejala yang muncul bergantung pada jumlah dan distribusi cedera otak (Brunner & Suddarth, 2002) : a. Penurunan kesadaran b. Nyeri setempat c. Sukar bangun dan bicara d. Muntah e. Kelemahan pada suatu sisi tubuh tiba-tiba f. Pembengkakan pada daerah fraktur g. Abnormalitas pupil h. Perubahan tanda-tanda vital. Pada klasifikasi klinis cedera kepala misalnya: cedera kepala disertai cedera pada daerah spinal atau cedera ekstrimitas, pengklasifikasian berdasarkan cedera kepala terbuka dan tertutup, cedera kepala coup dan contra coup: 1. Cedera Kepala Terbuka a. Cedera kepala terbuka berarti mengalami laserasi kulit kepala atau menembus otak. Ini dapat menimbulkan fraktur tulang tengkorak dan laserasi durameter. b. Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang tengkorak masuk ke dalam otak, sehingga menyebabkan kerusakan atau robekan pada durameter, pembuluh darah dan jaringan otak. c. Tanda dan gejala cedera kepala terbuka: - Battle sign : echymosis pada daerah mastoid - Perdarahan telinga, periorbital. 2. Cedera Kepala Tertutup a. Dapat disamakan dengan pasien gegar ringan dengan edema serebral ringan b. Komosio serebri atau gegar otak Adalah sindrom yang melibatkan bentuk ringan dari cederea otak menyebar, terjadi disfungsi neurologik sementara dan bersifat dapat pulih dengan atau tanpa kehilangan kesadaran, jika ada penurunan kesadaran mungkin hanya beberapa detik atau beberapa menit. Setelah itu pasien mungkin mengalami disorientasi dan bingung dalam waktu relative singkat, gejala lain : sakit kepala, tidak mampu untuk berkonsentrasi, gangguan memori sementara. 3. Kontosio Serebri / Memar Otak Menggambarkan area otak yang mengalami memar tanpa mengalami laserasi. Tanda dan gejala berviariasi tergantung pada lokasi dan derajat perdarahan kecil pada jaringan otak akibat pecahnya pembuluh darah kapiler, rusaknya jaringan saraf yang akan mengakibatkan edema jaringan otak dan sekitarnya pada akhirnya meningkatkan TIK dan meningkatkan laju mortalitas. - Cedera coup mengakibatkan kebanyakan kerusakan yang relative dibagian daerah yang terbentur - Cedera contra coup mengakibatkan kerusakan berlawanan pada sisi desakan benturan. Cedera kepala coup dan contra coup setelah trauma tumpul : 1. Cedera Kepala Coup - Sisi benturan dan tr5auma langsung pada otak - Robekan pada vena subdural - Trauma pada dasar otak 2. Cedera Kepala Contra Coup - Sisi benturan dari pukulan otak sisi berlawanan dari tengkorak - Robekan kuat pada otak 1.3. Manifestasi Klinis 1. Cedera Kepala Ringan a. cedera kepala sekunder yang ditandai dengan nyeri kepala, tadak pingsan, tidak muntah, tidak ada tanda-tanda neurology. b. Komusio serebri ditandai denga tidak sadar kurang dari 10 menit, muntah, nyeri kepala, tidak ada tanda-tanda neurology. 2. Cedera Kepala Sedang Ditandai dengan pingsan lebih dari 10 menit, muntah, amnesia, dan tanda-tanda neurology. 3. Cedera Kepala Berat a. laserasi serebri ditandai dengan pingsan berhari-hari atau berbulan-bulan, kelumpuhan anggota gerak, biasanya disertai fraktur basis kranii. b. Perdarahan epidural ditandai dengan pingsan sebentar-sebentar kemudian sadar lagi namun beberapa saat pingsan lagi, mata sembab, pupil anisokor, bradikardi, tekanan darah dan suhu meningkat. c. Perdarahan subdural ditandai dengan perubahan subdural, nyeri kepala, TIK meningkat, lumpuh. 1.4. Fisiologi Sistem persarafan. · Pengertian Salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerjasama yang rapi dalam organisasi san koordinasi kegiatan tubuh. · Pembagian susunan saraf a. Susunan saraf sentral - Medula spinalis - Otak : otak besar, otak kecil dan batang otak b. Susunan saraf perifer Susunan saraf somatic Susunan saraf otonom : susunan saraf simpatis dan susunan saraf parasimpatis. c. Sel saraf dan serabut saraf Ø Meningen (selaput otak) Selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang, melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah ke cairan sekresi (CSS), memperkecil benturan atau getaran yang terdiri dari 3 lapisan : 1. Durameter (lapisan luar) Selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat, dibagian tengkorak terdiri selaput tulang tengkorak dan durameter propia dibagian dalam. Didalam kanalis vertebralis kedua lapisan ini terpisah. 2. Arachnoid (lapisan tengah) Merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan piameter mmbentuk sebuah kantong dan balon berisa cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf sentral. 3. Piameter (lapisan dalam) Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak, piameter behubungan dengan arachnoid melalui struktur-struktur jaringan ikat yang disebut Trabekel. 1.5. Komplikasi 1. Edema cerebral 2. Herniasi 3. Komplikasi lain : · Infeksi sistemik atau infeksi bedah neuro contohnya infeksi luka, osteomelitis, atau meningitis. · Paralisis saraf fokal (setempat) - Anosmia - Abnormalitas gerakan mata - Afasia - Kejang-kejang · Defisit psikososial organik dan tidak ada respon emosional 1.6. Pemeriksaan Diagnostik 1. Rontgen tengkorak Untuk mengetahui perubahan struktur tengkorak 2. Ct scan kepala Untuk mengetahui perbahan struktur tengkorak, adanya Sol, hemoragik, pergeseran jaringan otak. 3. Angiografi serebral Untuk mengetahui hematoma serebral, kelainan sirkulasi serebral. 4. EEG Untuk mengetahui pergeseran susunan garis tengah otak 5. Laboratorium Pemeriksaan dara, Hb dan leukosit. 1.7. Penatalaksanaan 1. Penaganan terhadap 5B yaitu : - Breathing : Bebaskan obstruksi, suction, intubasi, trakeostomi - Blood : Monitor TD, pemeriksaan Hb, leukosit - Brain : Ukur GCS - Bladder : Kosongkan bladder karena urine yang penuh dan merangsang mengedan. - Bower : Kosongkan dengan alasan dapat meningkatkan TIK 2. Penatalaksanaan Medik a. Konservatif Ø Istirahat baring di tempat tidur. Ø Analgetik untuk mengurangi rasa sakit. Ø Pemberian obat penenang Ø Pemberian obat gol osmotic diuretic ( manitol). Untuk mengatasi edema serebral. Ø Setelah keluhan-keluhan hilang, maka mobilisasi dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan duduk di tempat tidur, berdiri lalu berjalan. b. Operatif Operasi hanya dapat dilakukan pada kasus tertentu seperti pada perdarahan epidural dan perdarahan subdural dengan maksud menghentikan perdarahan dan memperbaiki fraktur terbuka jaringan otak yang menonjol keluar, atau pada fraktur dimana fragmen-fragmen tulang masuk ke jaringan otak. KONSEP KEGAWAT DARURATAN a. Airway Jalan nafas apakah ada sumbatan/tidak b. Breathing - Apakah ada sesak/tidak - Frekuensi pernafasan dalam/dangkal, reguler/ ireguler - Irama pernafasan cepat/ lambat, apakah ada suara tambahan/tidak c. Circulation – Frekuensi nadi regular/tidak – Akral hangat/ dingin – Capillary refiil time <> 3 detik – Warna kulit pucat, sianosis, kemerahan – Apakah ada edema di muka, ekstermitas atas/ bawah – Irama jantung teratur/ tidak, apakah ada bunyi jantung tambahan – Adanya palpitasi d. Dissability (pencegahan dari kecacatan) Drugs : obat-obatan. Obat-0batan yang pernah dikonsumsi. e. Explosure Apakah ada trauma/ luka pada bagian tubuh. f. Fluid Cairan yang sering digunakan g. Good vital Temp, nadi, respirasi, tekanan darah. h. Head to toe KONSEP KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Anamnesa - Identitas klien - Keluhan utama - Riwayat penyakit sekarang - Riwayat penyakit dahulu - Riwayat keluarga - Riwayat pekerjaan - Riwayat geografi - Riwayat alergi - Riwayat kebiasaan sosial b. Kaji hal penting saat kejadian : tempat, bagaimana posisi saat kejadian, serangannya, lamanya, factor pencetus, adanya fraktur dan status kesadaran. c. Status neurologi : perubahan kesadaran, pusing kepala, vertigo, menurunnya reflkeks, malaise, kejang, iritabel, hemiparesis, letargi, coma. d. Status Gastrointestinal : mual-muntah e. Status kardiopulmonal : kesukaran bernapas / sesak, depresi napas, napas lambat, hipotensi, bradikardi. 2. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan perfusi serebral berhubungan dengan : - Penghentian aliran darah oleh SOL ( hemoragik, hematoma) - Edema serebral - Penurunan tekanan darah sistemik/ hipoksia 2. Resti pola nafas tidak efektif berhubungan dengan: - Kerusakan neurovaskuler ( cedera pada pusat pernafasan otak) - Kerusakan persepsi atau kognitif 3. Perubahan persepsi sensorik berhubungan dengan trauma, deficit neurology 4. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis, konflik psikologis 5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan - Kerusakan persepsi atau kognitif - Kekuatan/tahanan - Terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan 6. Resti terhadap infeksi berhubungan dengan - Trauma jaringan, kulit rusak, prosedur invasive - Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh - Kekurangan nutrisi - Respon inflamasi tertekan 7. Resti perubahan nutsisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan - Perubahan kemampuan untuk mencerna nutrient ( penurunan tingkat kesadaran ) - Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah, menelan - Status hipermetabolik. 8. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otak dan perdarahan, serta meningkatnya TIK 9. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan - Transisi dan krisis situasi - Ketidakpastian tentang hasil/ harapan 10. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan - Kurang pemajanan, tidakmengenal informasi - Kurang mengigat/ keterbatasan kognitif 3. Intervensi Keperawatan 1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK, edema serebral, perdarahan serebral. Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan serebral yang adekuat. Kriteria hasil : a. Pusing (-), muasl (-), muntah (-), gelisah (-). b. TD dalam batas normal c. Tidak ada tanda peningkatan TIK d. Kesadaran CM, GCS : 15 e. Pupil isokor, reaksi terhadap cahaya kuat NO Intervensi 1.Pantau adanya tanda peningkatan TIK : sakit kepala berat, muntah 2.Monitor TTV 3.Pantau GCS 4.Berikan posisi setinggi 15-30 o pada kepala 5.Bantu klien untuk mneghindari batuk 6.Jelaskan manfaat pembatasan aktivitas pada klien Rasional 1.Peningkatan TD dan penurunan RR secara bermakna akan memperberat kondisi TIK 2.Monitor tingkat kesadaran klien 3.Mengurangi TIK dengan menurunkan tahanan dan pengaruh gravitasi 4.Meminimalisir rangsangan yang dapat meningkatkan TIK 5.Pembatasan aktivitas klien dimaksudkan untuk pemakaian O2 dan energi yang membutuhkan suplay darah yang meningkat. 2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan refleks dan akumulasi secret. Tujuan : - Pasien mendemonstrasikan bersihan jalan napas yang adekuat Kriteria : - Batuk efektif a. Sianosis (-) b. Sesak (-) c. Pernapasan cuping hidung (-) d. HR 60 – 100 x/menit e. Sesak napas bersih NO Intervensi 1.Pertahankan jalan napas : pastikan secret dikeluarkan minimal tiap 2 jam 2.Anjurkan cara napas dalam 3.Demonstrasikan cara batuk efektif 4.Berikan posisi semi fowler Rasional Pantau adanya tanda dan gejala ketidakmampuan napas dalam dan pneumothoraks Anjurkan untuk perubahan posisi tiap 2 jam Membebaskan jalan naspa hambatan ventilasi lancer Kontrol diri dengan bernapas dalam Memungkinkan pengeluaran secret Mengurangi tahanan pada paru-paru, memungkinkan compliance paru. Perlu penanganan lebih intensif Mobilisasi sekresi dan memudahkan pembuangan 3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan, terapi pembatasan, immobilisasi. Tujuan : Klien dapat mobilisasi secara optimal Kriteria : - Melakukan kembali/ mempertahankan posisi fungsi optimal - Mempertahankan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit atau kompensasi - Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan dilakukannya kembali aktifitas. NO Intervensi 1.Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi. 2.Atur posisi pasien untuk menghindari kerusakan karena tekanan, ubah posisi pasien secara teratur 3.Sokong kepala dan badan, tangan dan lengan, kaki dan paha ketika pasien barada pada kursi roda. 4.Beri/ Bantu untuk melakukan latihan rentang gerak 5.Indikasikan/ Bantu pasien dengan program latihan dan penggunaanalat mobilisasi. Tingkatkan aktivitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan. Rasional Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan. Perubahan posisi secara teratur menyebabkan penyebaran terhadap BB dan meningkatkan sirkulasi pada seluruh bagian tubuh. Memperthankan kenyamanan, keamanan dan respon tubuh yang normal dan mencegah/ menurunkan resiko kerusakan kulit padadaerah koksigis. Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/ posisi normal ekstremitas dan menemukan terjadinya vena yang statis. Proses penyembuhan yang lambat, seringkali menyertai Trauma kepala dan pemulihan secara fisik merupakan bagian yang amat [enting dari suatu program pemulihan tersebut. sumber : http://patoflowaskep.blogspot.com/2008/12/trauma-capitis.html

Selasa, 06 Desember 2011

KELUARGA

keluarga,
mereka itu senyuman
mereka itu kasih sayang
mereka itu air mata
mereka itu bersama
mereka itu kebahagiaan
mereka itu nikmat
mereka itu anugerah
mereka itu derai tawa
mereka itu kegelisahan
mereka itu tempat kembali
mereka itu sumber hiburan
mereka itu teman
mereka itu lawan
mereka itu motivasi
mereka itu alasan
dan mereka itu keluarga saya, segalanya bagi saya :)